Language:
Search


Total Page View
Today 676
Yesterday 680
Week 29391
Month 141094
Visitors 1520949


Recent News

INFO SEHAT JUNI 2017
Posted Date : 2017-07-03

Dampak Asap Rokok terhadap Kesehatan Anak

 

Perilaku merokok orang dewasa bisa menjadi pemicu anak untuk menjadi perokok aktif juga karena karakteristik anak yang suka meniru dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Menurut tinjauan dari KPAI  (2008), Survey Ekonomi  Nasional Badan  Pusat Statistik (BPS) menunjukkan  terjadinya peningkatan jumlah perokok yang mulai merokok pada usia di bawah usia 19 tahun, dari 69 % pada tahun 2001 menjadi 78 % pada tahun 2004. Survey ini juga menunjukkan trend usia inisiasi merokok menjadi  semakin dini, yakni  usia 5-9 tahun. Perokok yang mulai  merokok pada  usia 5-9 tahun mengalami peningkatan yang paling  signifikan, dari 0,4 %  pada  tahun 2001 menjadi  1,8 %  pada tahun 2004. Beberapa tahun terakhir ini, pemberitaan tentang anak di bawah umur merokok telah banyak disiarkan.
 
Masalah rokok merupakan masalah yang kompleks  sehingga dampak rokok  bisa dihindari dengan kerjasama dari berbagai pihak. Namun, yang terpenting adalah peran dari orang tua dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang sehat.
 
Pengertian Asap Rokok
 
Menurut Tim Penulis Poltekkes Depkes Jakarta I (2010), asap yang dihembuskan para perokok dapat dibagi menjadi atas asap utama (mainstream) dan asap sampingan (sidestream).
 
  1. Asap utama (mainstream) adalah asap tembakau yang dihirup  langsung oleh perokok aktif (first hand smoker). Sebenarnya, seseorang yang merokok itu menghisap asap rokok yang ia bakar sendiri.
  2. Asap sampingan (sidestream) adalah asap tembakau yang disebarkan ke udara, yang dihirup oleh  orang lain  atau  perokok  pasif  (second  hand   smoker).  Asap  sampingan  memiliki konsentrasi lebih tinggi karena tidak melalui proses penyaringan yang cukup sehingga penghirup  asap   sampingan  (perokok   pasif)   memiliki  resiko  yang  lebih   tinggi   untuk menderita gangguan kesehatan akibat rokok, apalagi jika dihirup  oleh anak-anak.
Jika merokok di luar ruangan atau perokok pasif terpapar asap rokok, asap rokok bisa menempel di baju dan kulit. Jika merokok di dalam ruangan, residu bisa menempel di gorden, sofa, atap, bahkan mainan anak. Orang yang menghisap asap rokok ini dinamakan dengan third hand smoker.
 
Kandungan  Asap Rokok
 
Berikut rangkuman penjelasan komponen  asap yang  bersumber dari www.sampoerna.com dan U.Z. Mikdar (2006).
 
1. Tar
 
Tar bukanlah komponen asap yang  spesifik, melainkan mengacu  kepada partikel-partikel asap yang terukur dalam metode pengujian mesin. Partikel-partikel ini terbuat dari banyak komponen  asap, termasuk beberapa komponen   yang diyakini oleh otoritas kesehatan masyarakat sebagai kemungkinan penyebab penyakit terkait-merokok seperti kanker paru. Tar bersifat karsinogenik atau zat kimia yang menimbulkan kanker.
 
2. Nikotin
 
Nikotin adalah zat kimia yang terkandung secara alami dalam tanaman tembakau. Apabila tembakau dibakar, nikotin berpindah ke dalam asap. Nikotin dikenal oleh otoritas kesehatan masyarakat sebagai zat yang menimbulkan  kecanduan dalam asap tembakau. Partikel nikotin bersifat adiktif yang dapat meningkatkan penyempitan pembuluh darah koroner dan  dapat menyebabkan  jantung berdebar- debar.
 
3. Karbon Monoksida (CO)
 
Karbon monoksida adalah gas yang terbentuk dalam asap rokok. Gas CO mengganggu  pengangkutan oksigen  ke jaringan  tubuh dalam  sistem  peredaran  darah.  Karbon  monoksida  dikenal  sebagai penyebab utama penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung) pada perokok.
 
4. Komponen  asap lainnya
 
Ribuan komponen asap lainnya telah diketahui terkandung dalam  asap rokok. Selain nikotin dan karbon monoksida, otoritas kesehatan masyarakat telah menggolongkan  sekitar 70  di antaranya sebagai  kemungkinan   penyebab  penyakit  terkait-merokok.  Sebagian  dari  komponen  ini  adalah arsenik, benzena, benzo[a]pirena, logam berat (timbel, kadmium), hidrogen sianida, dan nitrosamina khusus  tembakau.  Menurut  U.Z.  Mikdar (2006), komponen  lain  dari  asap  rokok  yang bersifat karsinogenik, yaitu partikel fenol, partikel hydrazin, partikel toluene, gas nitrosamina, dan gas formaldehyde. Sedangkan komponen  asap rokok yang bersifat racun, yakni partikel naftalene, partikel benzopyrene, gas NO2, gas formaldehyde, gas amonia, gas methana, dan gas HCN.
 
Dampak  Buruk Asap Rokok terhadap  Kesehatan Anak
 
Anak beresiko yang lebih tinggi untuk terkena dampak buruk  dari asap rokok dibandingkan dengan orang  dewasa. Anak  mempunyai  sistem  imun dan  alat  pernafasan  yang  masih  berkembang  dan rentan  terhadap  berbagai penyakit.  Saluran  pernafasan  dan paru-paru  yang kecil membuat  anak lebih sering bernafas sehingga lebih sering menghirup asap rokok. Anak-anak telah menjadi perokok pasif dan third hand smoker dikarenakan anggota keluarga anak yang merupakan perokok aktif dan atau lingkungan rumah yang tidak sehat, yaitu banyak perokok aktif.
 
Dampak  jangka panjang dari asap  rokok  ini yang lebih  membahayakan karena asap  rokok  yang dihirup akan menumpuk   di dalam  tubuh dan  menyebabkan  seseorang  menderita  penyakit  yang sangat mematikan. Berikut dampak jangka panjang rokok bagi anak.
 
1.  Gigi keropos
 
Penelitian yang  diterbitkan dalam  Journal of the American Dental Association menemukan  kaitan antara perokok pasif dengan keropos pada gigi susu anak. Artinya, paparan asap rokok membuat gigi susu  anak  rentan keropos. Hal  tersebut terjadi karena dipengaruhi  oleh mikrobiota pada  mulut, penurunan tingkat vitamin C, penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh, serta produksi saliva yang penting bagi kesehatan mulut (www.merdeka.com).
 
2. Infeksi telinga
 
Sebuah studi yang diterbitkan di Archives of Pediatric and Adolescent Medicine menambahkan risiko baru dari asap rokok, yakni infeksi   telinga pada anak yang terpapar asap  rokok. Studi pada orang tua perokok menemukan, anak-anak  mereka 1,5 kali  lebih  mungkin  mendapatkan infeksi  telinga tengah.  Terutama  anak  dari  ibu yang perokok,  dua kali  lipat memiliki  risiko infekis telinga  tengah (www.ayahbunda.com). Sampoerna menyatakan dalam  artikel di situs  www.sampoerna.com, asap rokok sekunder menyebabkan otitis media atau infeksi telinga tengah.
 
3. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)
 
Bayi dan anak balita mempunyai risiko yang lebih besar karena paru-paru bayi dan anak balita lebih kecil dibanding orang dewasa, sistem kekebalan tubuh mereka belum terbangun sempurna, akibatnya lebih mudah terkena radang paru-paru.
 
4. Asma
 
U.Z. Mikdar (2006) menyatakan bahwa perokok pasif dapat menyebabkan dapat memperparah asma. Laporan dari ASH Research Report (2011) menyatakan bahwa  anak dari keluarga perokok memiliki resiko dua kali  lebih  besar menderita asma dibanding  anak dari  keluarga tidak perokok.  Penelitian dari  Ratih Oemiyati dan Qomariah Alwi (2009),  faktor lingkungan  yang paling besar pengaruhnya terhadap asma adalah adalah asap rokok.
 
5. Penebalan dinding pembuluh darah
 
European Heart Journal (2014) merilis sejumlah peneliti dari Tasmania, Australia, dan  Finlandia mendapati bahwa asap rokok yang dihirup  anak bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada arteri anak.  Kerusakan yang  terjadi berupa penebalan dinding  pembuluh darah yang  akan meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke di kemudian hari (www.bbc.co.uk).
 
6. Penyakit pembuluh darah perifer (PPDP)
 
Akibat  penggumpalan   (trombosis)  dan   pengapuran  dinding  pembuluh  darah  (aterosklerosis), merokok jelas akan merusak pembuluh darah perifer. PPDP yang melibatkan pembuluh darah arteri dan  vena  di tungkai  bawah atau tangan  sering  ditemukan  pada  dewasa  muda   perokok  berat, biasanya akan berakhir dengan amputasi (Tim Penulis Poltekkes Depkes Jakarta I, 2010).
 
7.  Berbagai kanker
 
Anak perokok pasif mempunyai resiko 3 kali lebih besar menderita kanker paru-paru di kemudian hari dibanding anak yang hidup  di lingkungan  bebas asap rokok. The  British Medical Association menemukan  bahwa  perokok pasif menyebabkan  kanker pada  anak  (khususnya  kanker otak dan limpoma) dan meningitis. Penelitian di Swedia menemukan orang tua perokok meningkatkan resiko anak menderita beberapa jenis kanker, seperti kanker paru-paru, aerodigestive cancer (bibir, mulut, lidah, hidung, tenggorokan, pita suara, dan  bagian dari esopagus dan batang tenggorokan) (ASH Research Report, 2011).
 
8. Emfisema
 
Emfisema adalah gangguan paru-paru  kronis yang  dapat menyebabkan  kematian. Menurut ASH Research Report (2011), anak yang menjadi  perokok pasif akan menderita emfisema ketika dewasa. Penemuan  menyatakan bahwa paru-paru  tidak  bisa  menyembuhkan kembali secara  sempurna  efek dari paparan asap rokok ketika masih anak.
 
9. Penyakit jantung dan stroke
 
Merokok  menjadi  faktor  utama  penyebab  penyakit  jantung.  Resiko  terjadinya  penyakit  jantung koroner meningkat 2-4 kali pada perokok aktif dibanding yang bukan perokok. Resiko ini meningkat dengan  bertambahnya usia dan jumlah  rokok  yang dihisap. Penelitian menunjukkan  bahwa faktor resiko merokok bekerja secara sinergis dengan faktor-faktor lain seperti hipertensi dan kadar lemak dalam gula darah yang tinggi tercetusnya penyakit jantung koroner.  Penyumbatan pembuluh darah otak yang  bersifat mendadak  atau stroke banyak  dikaitkan dengan  merokok.  Resiko stroke dan kematian  lebih tinggi pada perokok  dibanding  dengan yang bukan perokok. Anak di bawah umur yang  perokok  pasif  bisa  jadi  akan menderita  penyakit  jantung  dan  stroke  ketika  ia remaja  atau dewasa awal (Tim  Penulis Poltekkes Depkes Jakarta I, 2010).
 
Cara meminimalisir dampak buruk  asap rokok terhadap kesehatan anak
 
Masalah mengenai rokok merupakan masalah yang sangat kompleks. Banyak pihak yang terlibat jika ingin meminimalisir dampak buruk  asap  rokok terhadap kesehatan anak.  Namun, yang  terpenting adalah peran dari orang tua dan lingkungan sekitar rumah dalam menciptakan lingkungan sehat agar anak tumbuh sehat pula.
 
Berikut hal yang bisa dilakukan oleh orang tua.
 
1. Berhenti merokok
 
Jika  salah  satu  dari  orang  tua  atau  kedua  orang  tua  merokok,  sebaiknya  mulai  membiasakan  diri untuk tidak  merokok  lagi.  Orang  tua  sebaiknya  paham  akan bahayanya rokok dan  asapnya. Anak yang  melihat orang tua merokok akan  cenderung meniru perilaku  orang tuanya yang  merokok karena anak ingin  tahu apa yang dilakukan orang tuanya. Untuk berhenti merokok pelan-pelan bisa dengan menunda menghisap asap rokok pertama setiap hari sebelumny dan selama 7 hari berturut- turut. Bisa juga dengan mengurangi jumlah rokok yang dihisap.
 
2. Buat rumah bebas dari asap rokok
 
Asap  rokok  masih akan  menempel  di baju  bahkan  jika  orang tua merokok di luar rumah. Jika memang  tidak bisa berhenti merokok, merokok jauh  di luar rumah.  Sebelum  memegang  anak sebaiknya mandi  dan  berganti baju. Apalagi jika  merokok di dalam  rumah,  anak  akan  menjadi perokok pasif dan residu rokok akan menempel di berbagai sudut rumah. Akan lebih berbahaya jika residu menempel pada mainan anak. Jika ada anggota keluarga yang ingin merokok, beritahu tentang aturan di dalam rumah untuk tidak merokok sebelumnya.
 
Berikut yang bisa dilakukan oleh lingkungan sekitar.
 
1. Bekerjasama untuk membuat Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
 
Antar  anggota  masyarakat  sebaiknya  sepakat  untuk membuat  Kawasan Tanpa  Rokok  (KTR)  agar anak-anak yang tinggal di lingkungan tersebut tumbuh dengan sehat. Kawasan Tanpa Rokok adalah ruang  atau  area  yang dinyatakan  dilarang  untuk kegiatan  produksi,  penjualan,  iklan,  promosi  dan atau  penggunaan  rokok. Masyarakat  harus  membuat  aturan  yang  tegas  jika  ada yang melanggar perlu sanksi, saling mengingatkan, dan konsisten untuk melaksanakan KTR ini.
 
2. Tanam pohon dan tanaman hias
 
Bisa juga dengan kegiatan menanam pohon  dan tanaman hias agar udara di lingkungan  semakin bersih. Asap rokok dan asap kendaraan bermotor bisa diserap oleh pohon dan diganti dengan udara yang bersih.
 
INFO SEHAT JUNI 2017
 
Follow Us On :

    Copyright © 2017 Pan Pacific Insurance. All rights reserved. Design by Panfic